Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

LGBT Bukan "New Normal"

  

Dua hari ini Indonesia sedang diramaikan oleh berita “Pelangi”, atau istilah kerennya adalah kaum Rainbow, kaum rainbow ini merujuk kepada suatu kaum, komunitas atau sekelompok orang yang katanya memiliki orientasi seksual yang berbeda dengan manusia kebanyakan, jadi kalau normal nya laki-laki itu suka sama perempuan, dan perempuan suka sama laki-laki kalau ini agak sedikit berbeda, rasa suka mereka atau ketertarikan mereka sedikit unik mereka suka atau tertarik sama orang yang jenis kelaminnya sama dengan yang mereka miliki sendiri, atau kedua-duanya ya mereka ini biasa disebut sengan Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender atau lebih dikenal dengan singkatan LGBT.

  

                                                                   Unilever dukung LGBT

Kehebohan ini berawal dari salah satu perusahaan consumer goods terbesar dunia yang produknnya paling banyak digunakan oleh masyarakat yaitu Unilever melalui official account Instagram nya menyatakan dukungan terhadap kaum LGBT sontak ini menjadi sebuah berita besar di Indonesia meskipun yang menyatakan demikian adalah unilever pusat mereka di belanda tapi tentu saja unilever Indonesia sebagai bagian dari grup unilever juga terkena imbas protes oleh masyarakat netizen Indonesia, protes ini menjadi trending di media social tidak hanya twitter di facebook pun banyak ajakan untuk memboikot atau menghentikan penggunaan produk unilever dan ajakan beralih menggunakan produk yang lainnya. Bahkan di salah satu grup belajar menulis yang saya ikuti ada beberapa penulis yang menulis seputar dukungan Unilever terhadap kaum LGBT tersebut dan banyak sekali yang memprotes dukungan tersebut sebenernya bukan hanya Unilever yang mendukung kaum Pelangi tersebut, masih banyak perusahaan dan organisasi international yang memberikan dukungan terhadap kaum Pelangi tersebut dilansir dari halaman huffington post pada 2017 ada sekitar 200 perusahaan yang memberikan dukungan kepada kaum LGBT, diantaranya adalah raksasa pencarian Google dan minuman soft drink Coca Cola.

    Sebenarnya kaum ini sudah lama eksis tidak hanya di Indonesia tapi di dunia sejak lama, ada berbagai macam perkumpulan LGBT dan bahkan sering dilakukan aksi secara terang-terangan dari kaum LGBT untuk menuntut agar mereka diperlakukan dan mendapatkan hak-hak seperti orang-orang dengan orientasi seks normal lainnya, kehidupan kaum LGBT di barat bahkan sudah tidak ada rasa canggung lagi untuk memperlihatkan kemesraanya di depan umum, bahkan ada juga yang mengadopsi seorang anak, di beberapa negara memang LGBT diperlakukan seperti biasa mereka bahkan bisa mendirikan perkumpulan, mengadakan kegiatan dan MENIKAH data terakhir ada 30 negara yang melegalkan pernikahan sesame jenis diantaranya inggris, perancis, jerman, amerika serikat, Australia yang merupakan  negara tetangga Indonesia dan terakhir Austria dan ekuador yang pada tahun 2019 juga melegalkan hal tersebut dan kehidupan kaum LGBT di Indonesia memang tidak seperti dibarat tetapi mereka masih bisa melakukan perkumpulan dan  tercatat ada beberapa perkumpulan kaum LGBT untuk di Indonesia sendiri diantaranya ada  Gaya Nusantara, Arus Pelangi, Ardhanary Institute, GWL INA dan lain-lain. Berdasarkan rilis kementrian Kesehatan pada tahun 2006 ada sekitar 760 ribu gay di Indonesia dan ada sebuah artikel yang menyatakan opini bahwa populasi LGBT di Indonesia mencapai 3% dari total penduduk Indonesia. Untuk hukum di Indonesia sendiri tidak ada yang mengatur secara tegas tentang kaum LGBT ini, karena adalah perspektif negara semua punya hak yang sama di depan hukum termasuk kaum ini, meskipun ada daerah seperti Aceh yang menggunakan hukum Syariah yang secara tegas melarang hal ini dan akan dikenakan hukum cambuk di depan umum jika terbukti melakukannya. Tapi di negara Indonesia yang mayoritasnya adalah muslim pasti melarang dan menolak keberadaan kaum ini, meskipun dikatakan bahwa LGBT ini bukan penyakit menular dan memang orang yang mengidap LGBT ini dikatakan adalah orang-orang yang sejak kecilnya adalah orang yang didalam dirinya sudah memiliki potensi untuk menjadi LGBT. Dan akan timbul apabila ada pemicunya seperti lingkungan dan lain-lain.

   Pendapat penulis sendiri diluar pendapat sebagai seorang muslim LGBT ini harus Kembali diarahkan kepada jalan fitrah nya sebagai perempuan dan laki-laki yaitu mencintai atau menyukai seseorang yang memiliki perebedaan jenis kelamin dengan dirinya sendiri, meskipun memang tidak semudah yang diucapkan karena ini bukan suatu hal yang bisa di operasi, diberikan obat  atau dilakukan Tindakan medis lalu Kembali menjadi normal seperti semula. Itu ada dalam jiwa dan psikologis mereka, mungkin seperti seseorang yang memiliki sifat rkanmalas tapi kemalasan juga bisa dirubah jika berusaha. Bagaimanapun perilaku seperti itu tidak bisa dibiarkan, jika dikatakan bahwa LGBT itu hanya akan menjangkiti orang-orang yang memang memiliki kemungkinan tersebut sejak lahir dan akan terpicu apabila berada dalam lingkungan yang memungkinkan hal itu untuk muncul maka orang-orang LGBT yang sekarang ini harus disadarkan bahwa yang mereka lakukan bukan suatu yang normal dan jangan mengganggap itu adalah sebuah normal yang baru.

  Sekarang ini banyak hal yang sudah melampui batas yang dilakukan atas nama Hak Asasi Manusia (HAM),  selama tidak melanggar hukum orang-orang bebas melakukan apa saja padahal manusia hidup Bersama dengan manusia lainnya segala Tindakan yang dilakukan akan menimbulkan pengaruh entah besar maupun kecil ke dalam kehidupan yang lainnya. Apalagi sebagai seorang muslim yang sudah jelas dalam hukum islam bahwa perbuatan seperti ini tidak dibenarkan dan sudah diberikan contoh oleh kisah dari kaum nabi Luth A.S. maka sudah menjadi jelas bahwa umat muslim yang beriman dan bertaqwa tidak dapat mentolerir hal demikian, jangan tergoyahkan oleh argumen-argumen yang mengatakan bahwa itu adalah bagian dari HAM. Yang harus disadari juga bahwa hukum yang berlaku di Indonesia bukan hukum Syariah meskipun negara Indonesia mayoritasnya adalah penduduk muslim karena negara ini dibangun secara Bersama-sama dan gotong royong dari berbagai ras dan suku bangsa. Jadi kita tidak bisa memaksakan hukuman cambuk atau Syariah terhadap orang-orang yang memiliki orientasi penyimpangan seksual tersebut.

4 comments for "LGBT Bukan "New Normal""

  1. Mantaab mass bahas giniaan. Agak meresahkan jg sih trnyata di Indonesia jg mndukung kaum trsebut. Sbnernya dipengaruhi oleh prusahaan2 asing jg memang. Bahkan di Instagram pun memberikan gif dan ring warna wrni trsendiri untuk story. .

    Bbrp taun lalu bhkan ga seramai skrg loh. Tdnya saya liat di webcomic luar, dan gatau Month pride itu apa. Suka sama lambang wrna wrninya. Pas tmenku ksh tau trnyata itu dukung LGBT dong :( abs itu jd ga suka sm wrna wrni itu lg. Takut. wkwk. Ngeri2 sedap klo inget kisah nabi Luth. Smpe dibikin bulan trsndiri di bln Juni pulaa, haduu mngapa hrs bln juni?:(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kepikiran bahas karena viral banget kemarin sekaligus nyari tau tentang LGBT ini, karena tanpa sadar terkadang beberapa dari mereka ada dinsekitar kita hanya belum terang2an saja biasanya

      Delete
  2. Mantul gan artikelnya, ya dong LGBT harusnya gak boleh dibiarkan Krn bahaya buat generasi mendatang maka dari itu Islam melarang keras perbuatan menjijikkan semacam itu, mantab 👍

    Mampir gan ke blog ane ada banyak info update https://kabarinformasiaktual.blogspot.com/2020/07/beredar-isu-reshuffle-kabinet-dikala.html?m=1

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya gan harusnya memang dibuatkan hukum dan aturan yang jelas

      Oke gan siapp

      Delete

Berlangganan via Email