Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Review Saham dan Kinerja Bukalapak

IPO Bukalapak

 Bukalapak.com sudah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode BUKA, Initial Public Offering (IPO) atau penawaran saham perdana Bukalapak ini termasuk sukses dan berhasil mengantarkan pendiri nya yaitu Ahmad Zaky memiliki aset sekitar 4,7 Trilliun dengan kepemilikan sebesar 4,3% dari total 103 miliar lembar saham yang beredar. Harga saham bukalapak naik dari Rp.850 per lembar saham menjadi Rp.1.060 per lembarnya, bahkan saham bukalapak sempat mencapai Auto Reject Atas (ARA) ketika hari pertama melantai di bursa.

 IPO nya bukalapak ini pun menjadi sebuah sejarah sebagai perusahaan unicorn pertama yang melantai dibursa indonesia. Unicorn sendiri adalah sebutan bagi sebuah perusahaan rintisan atau start-up yang memiliki nilai valuasi US$1 Miliar dollar atau setara 14 trilliun. Indonesia sendiri memiliki 4 perusahaan yang menyandang gelar unicorn yaitu Bukalapak, Gojek, Tokopedia dan Traveloka. Bukalapak sendiri merupakan sebuah perusahaan e-commerce yang berfokus pada UMKM dimana saat ini sektor e-commerce ini memang sedang ramai persaingannya di indonesia, sebut saja Shopee, Tokopedia, Lazada, blibli.com dan masih banyak lagi.

 Keputusan untuk melantai dibursa saham ini menjadi pertanyaan banyak orang, apakah ini tanda bahwa bukalapak sudah kehabisan cara untuk dapat mengalahkan dua nama besar e-commerce indonesia yaitu Shopee dan Tokopedia, dan IPO ini adalah cara para pemilik mengambil keuntungan sebelum keluar atau Exit strategy. Exit strategy ini memang hal yang biasanya dilakukan oleh para pendiri start-up untuk keluar dan mengambil keuntungan.

 Perusahaan di bidang teknologi di indonesia yang melantai di bursa memang sedang laris manis diburu oleh para investor indonesia, padahal jika dilihat dari kinerja dan rasio-rasio yang ada perusahaan-perusahaan tersebut masih belum bisa memberikan profit yang cukup untuk para investor, tapi para investor cenderung menaruh harapan dan ekspektasi yang tinggi terhadap perusahaan-perusahaan yang bergerang di bidang teknologi tersebut. 

 Saham bukalapak ini cenderung seperti sedang di "goreng" oleh para bandar untuk mengambil keuntungan dari margin atau capital gain dibandingkan dengan mengambil keuntungan dengan cara investasi jangka panjang melalui keuntungan dari deviden. Bukalapak sendiri jika dilihat dari data keuangan masih belum bisa menghasilkan keuntungan tapi masih membutuhkan modal yang cukup banyak untuk dapat bersaing dengan e-commerce lainnya. 

Earning per share (EPS) Bukalapak

 Jika dilihat dari data diatas bahwa bukalapak masih mengalami kerugian dari tahun 2018 meskipun kerugian yang diperoleh semakin mengecil setiap tahunnya, tapi tentunya ini harus menjadi perhatian bagi para investor yang hendak ber investasi di bukalapak agar tidak hanya kebagian cuci piring dari bandar-bandar saham.
Fundamental Bukalapak

 Dilihat dari keadaan fundamental dari saham Bukalapak ini bahwa perusahaan ini masih merugi hampir Rp.323 miliar, ini tentunya sangat tidak menguntungkan bagi para investor untuk berinvestasi di perusahaan tersebut. selain itu jika dilihat dari valuasi dan profitabiltas perusahaan ini juga masih jauh dari kata sehat. 


 Setelah kita melihat ratio-ratio diatas kita patut bertanya dan mempertanyakan apa tujuan dari IPO Bukalapak ini, selai itu jika kita melihat kondisi real sektor e-commerce sepertinya agak sulit untuk bukalapak untuk bisa menggeser Shopee dan Tokopedia dari puncak e-commerce. Bukalapak harus punya terobosan baru atau ekspansi bisnis ke area yang masih belum di masuki oleh e-commerce lainnya, atau setidaknya bukalapak harus membuat differensiasi dari e-commerce lainnya sehingga masyarakat bisa mengingat bukalapak dan tetap menggunakannya.  

 Perang disektor e-commerce memang luar biasa, banyak e-commerce atau start-up yang harus mengeluarkan modal besar atau istilahnya "Bakar Uang" hanya untuk menggaet customer menggunakan aplikasinya. Perang diskon antar marketplace memang luar biasa, disatu sisi memang ini menguntungkan bagi para user atau pembeli tapi di sisi lain ini membahayakan bagi perusahaan marketplace. Lagipula sepertinya perang diskon dan cashback tidak akan pernah bisa berhenti, karena ketika ada satu marketplace yang pada akhirnya bisa bertahan dan jadi pemenang dan mulai menghentikan segala diskonnya dan gratisannya bukan tidak mungkin akan muncul platform baru yang akan menggunakan cara yang sama untuk merebut pasar nya.

Data e-commerce Indonesia 2020

 Masih kita tunggu bagaimana strategi dari Bukalapak setelah sukses menggelar IPO, karena bagimanapun sebuah perusahaan harus bisa menghasilkan profit untuk dapat terus survive dan bertahan dalam arena persaingan.





Post a Comment for "Review Saham dan Kinerja Bukalapak"